Ticker

6/recent/ticker-posts

Review Suicide Knot: Perjuangan Karen Memecahkan Misteri Kematian Sahabatnya

 

Karen masih berduka atas kematian Anne, sahabatnya di SMA. Saat mengunjungi kamar mendiang sahabatnya itu, ia menemukan stiker H.E.L.P yang menempel di bingkai foto di meja. Saat kembali bersekolah, ia melihat anak-anak sekelas membicarakan rekaman live kematian Anne sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam rekaman itu, Anne sesekali melirik ke sebuah arah dan menepuk dada kirinya.

Awalnya, Karen gak memikirkan apa pun. Namun, dengan banyaknya pertanda yang ditinggalkan ia mulai mencurigai kemungkinan ada dalang di balik kematian Anne. Ia pun berusaha memecahkan misteri kematian sahabatnya itu.

Sebetulnya, untuk apa aku melakukan ini semua? 

Apa sebaiknya aku menyerah saja? -- hlm 14

1. Mengangkat isu bullying di sekolah

Suicide Knot jadi series Urban Thriller Noura pertama yang saya baca. Novel ini menyoroti isu bullying yang terjadi pada dua sahabat sejak SMP. Mereka menjadikan hobi sebagai stress release. Karen dengan menggambar dan Anne dengan menulis. Sayangnya, mereka kembali jadi korban bullying di SMA.

Dikisahkan, Anne menjadi juara pertama dalam kompetisi novel. Setelah kemenangannya itu, ia mendapat teror dan bullying dari geng Silver Girls. Geng itu diketuai oleh Bianca Grace Paloma, putri tunggal ketua Yayasan. Bianca yang gak terima berada di posisi kedua mulai melakukan segala cara agar Anne menderita dan gak bisa menulis lagi. Dengan privilige-nya, Bianca bisa melakukan bullying tanpa meninggalkan jejak maupun mendapatkan hukuman.

2. Perjuangan Karen memecahkan kode yang ditinggalkan Anne

Karen jadi seorang diri setelah Anne meninggal. Terlebih lagi, ia jadi korban bullying Bianca selanjutnya. Berbekal kode-kode yang ditinggalkan Anne, ia berusaha membuktikan kejahatan Bianca dalam kasus itu. Meski sempat ragu dengan dirinya yang gak punya power, ia tetap memperjuangkan kasus sahabatnya itu.

Bagi Karen, Anne satu-satunya sahabat yang dimilikinya. Ia ingin melakukan segala cara agar Anne mendapat keadilan. Terlebih lagi, keluarga Anne juga terlihat cuek dengan kematian putrinya.

Saat posisi Karen tengah kesulitan, ia mendapat bantuan dari Cello, pacar Bianca. Cello merupakan sosok yang mencurigakan. Saat Anne masih hidup, cowok itu begitu peduli pada Anne. Bahkan, ia juga membantu Karen di situasi krisis. Meski begitu, Cello juga terlihat gak bisa melawan Bianca karena alasan tertentu.

3. Sudut pandang orang pertama dan plot twist yang gak terduga

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Lika-liku Karen dalam mengungkap misteri kematian Anne semakin menarik dengan banyaknya kode yang muncul.

Anne memang menyukai novel genre misteri dan suka membuat berbagai kode rahasia saat masih hidup. Baginya, kode jadi cara untuk meminta bantuan saat kesulitan. Terlebih, ada kondisi tertentu yang bikin seseorang gak bisa berteriak dan menggunakan kode atau gerakan tertentu akan lebih memungkinkan.

Sudut pandang orang pertama punya kekurangan tersendiri. Seperti, lingkup lain di luar pemikiran Karen gak kelihatan. Bahkan, motif Cello di halaman awal mendekati Karen belum dijelaskan secara keseluruhan. Begitu pula karakter lain yang terasa cukup flat karena dijelaskan hanya dari deskripsi Karen.

Meski begitu, plot twist-nya cukup mengejutkan dan menunjukkan kalau gak ada yang bisa dipercaya di novel ini. Yang lebih menarik, kematian Anne di novel ini ternyata gak sia-sia seperti cerita pada umumnya.

Namun, bagaimanapun, aku sudah bertekad untuk membongkar semua simpul kematian Anne sampai tuntas. Aku harus ingat, hanya aku yang tersisa untuknya. -- hlm 177

Posting Komentar

0 Komentar